Kamis, 23 Mei 2013

Rumah Singgah Atau Piala Bergilir (Bag. 3)

Dengan filosofi yang salah di atas yang paling banyak menjadi korban adalah wanita. Mereka sering menjadi rumah singgah atau piala bergilir. Tahun ini disinggahi Rudolfo, tahun berikutnya Bambang, dua tahun kemudian Akiong dan seterusnya. Tidak sedikit pula wanita yang merasa bahwa dirinya adalah rumah singgah atau piala bergilir. Tanpa disadari prinsipnya adalah patah tumbuh hilang berganti.
Kalau hanya berteman dalam batas-batas yang jelas tidak masalah bila berganti teman, tetapi kalau dalam konteks berasmara atau bercinta dengan konten yang salah pasti dirinya menjadi seperti bunga yang madunya dihisap kemudian ditinggal. Konyolnya tidak sedikit gadis-gadis muda tidak merasa “terhina” dengan keadaan dirinya tersebut. Kalian harus berpikir dan berkata dengan keras : “Aku wanita terhormat dan berharga”. Kemuliaanku sebagai wanita adalah kalau aku memberi kehormatanku kepada pria yang Tuhan kehendaki kepadanya kuserahkan”.
Jangan jadi gadis murahan atau gampangan. Harus diingat rumus ini: semakin seorang wanita tidak mudah disentuh maka ia semakin mahal harganya. Memang ada godaan bagi pria tertarik untuk memburu wanita-wanita seperti ini dan menaklukkannya. Bila sudah berhasil menaklukkan sampai pada berhubungan seks, maka pria itu baru membuktikan bahwa wanita itu ternyata tidak semahal yang diduganya. Mengapa? Sebab memang sudah tidak berharga lagi di matanya.
Tidak sedikit gadis-gadis yang mudah memberi “segalanya” kepada pria yang menjadi pacarnya. Biasanya pria yang tidak dewasa berpacaran karena ingin menghisap “madunya”. Oleh karena takut kehilangan “pacar” dan juga memang menikmati hubungan yang tidak dewasa tersebut maka seorang gadis menyerahkan kehormatannya. Harus dicatat di sini bahwa pria yang merenggut kehormatan seorang wanita adalah pria yang tidak terhormat atau tidak pantas dihormati. Ia akan sulit juga menjadi orang tua yang terhormat.
Adalah bodoh kalau seorang gadis berpikir bahwa hubungan seks yang dilakukan berdua itu adalah hubungan yang mengekspresikan cinta atau membuktikan cinta mereka. Hal itu menunjukkan kejahatannya terhadap pacarnya. Dalam hal ini seorang gadis hendaknya tidak berpikir bahwa hal itu hanya dilakukan dengan dirinya (belum tentu bahkan sangat besar kemungkinan tidak). Jangan berpikir bahwa pria akan bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Kalau pria itu masih bersekolah atau kuliah belum selesai, mencari nafkah belum bisa berarti ia tidak akan mampu bertanggung jawab. Bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri saja tidak bisa bagaimana bertanggung jawab kepada orang lain. Menurut survey separoh perkawinan orang-orang muda dibawah umur 22 tahun dan yang melakukan hubungan seks dan kehamilan sebelum menikah berakhir perceraian.
Kenikmatan seks yang diberikan kepada pasangan pria sebenarnya bukanlah bukti cinta yang membahagiakan, tetapi dua menit kepuasan orgasme (klimak kepuasan seks) yang akan mendatangkan banyak kerugian yang tidak dapat ditebus dengan cara dan bentuk apapun. Hubungan badan itu bukanlah jawaban dari kehausan bercinta, seakan-akan hal itu dilakukan atas nama cinta. Tetapi justru tindakan itu adalah penghianatan terhadap cinta. Dan hal itu dilakukan atas nama “nafsu” yang rendah yang tidak meletakkan cinta pada tempat yang terhormat.
Bagi wanita hubungan badan memang bisa menjadi kenangan yang indah tetapi bagi pria sering menjadi akhir dari sikap hormatnya kepada lawan jenisnya. Ingat hukum ini: wanita yang sudah berhasil “ditiduri” (sebelum menikah) tidak akan berharga sama dengan harga sebelumnya (apalagi kalau terinfus penyakit kelamin). Bagi pria petualang, ia akan mulai mencari sensasi baru dengan wanita lain, sebab sensasi baru dengan wanita ini sudah berakhir. Cinta tidak akan menjadi indah seperti sebelumnya. 
(seminar seksologi, Dr. Erastus Sabdono)

Sahabat, berpikirlah bijaksana, kenikmatan sesaat yang hanya 2 menit 90 detik itu dapat menghancurkan seluruh hidup seseorang.
Share This :

1 komentar:

  1. Wah..wah bagus sekali kalimat ini: "Kenikmatan seks yang diberikan kepada pasangan pria sebenarnya bukanlah bukti cinta yang membahagiakan, tetapi dua menit kepuasan orgasme (klimak kepuasan seks) yang akan mendatangkan banyak kerugian yang tidak dapat ditebus dengan cara dan bentuk apapun. Hubungan badan itu bukanlah jawaban dari kehausan bercinta, seakan-akan hal itu dilakukan atas nama cinta. Tetapi justru tindakan itu adalah penghianatan terhadap cinta...!!"

    BalasHapus